PENGKAJIAN PENGARUH PEMBERIAN MULSA DAN BIOSTIMULAN TERHADAP PRODUKTIVITAS BUAH MELON VARIETAS SKY ROCKET.

PENGKAJIAN  PENGARUH PEMBERIAN MULSA DAN BIOSTIMULAN TERHADAP PRODUKTIVITAS BUAH MELON VARIETAS SKY ROCKET

Di Kecamatan Tejakula, Kabupaten Buleleng

Oleh

Widiyazid Soethama

Sustainable Development of Irrigated Agriculture in Buleleng and Karangasem (SDIABKA) Project

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh biostimulan dan pemberian mulsa terhadap produktivitas tanaman melon. Di lahan kering berigasi sumur pompa yang dikembangkan oleh SDIABKA Project, bantuan MEE, memungkinkan untuk di usahakan tanaman hortikultura bernilai tinggi. Penelitian ini dilakukan di desa Tembok, kecamatan Tejakula, kabupaten Buleleng, pada bulan Juli 2003. Dari percobaan yang dilakukan diperoleh bahwa pemberian mulsa plastik hitam perak (PHP) dan biostimulan Super Bionik memberikan pengaruh yang nyata terhadap produktivitas melon Sky Rocket. Penggunaan bahan-bahan lokal dan tenaga kerja keluarga mampu menambah penerimaan dalam budidaya melon.

I. PENDAHULUAN

Usahatani dilahan kering umumnya dicirikan oleh adanya keterbatasan air, kesuburan lahan yang rendah, penguapan yang tinggi, serta rendahnya curah hujan. Kondisi ini juga tampak pada lahan kering di wilayah kecamatan Tejakula Buleleng dan kecamatan Kubu Karangasem. Namun, dengan dibangunnya sistem irigasi air tanah dengan memanfaatkan sumur pompa yang dibangun melalui Proyek SDIABKA, maka kendala terhadap air dapat dipecahkan. Meskipun demikian, pemanfaatan air yang efisien perlu dilakukan oleh petani dengan sistem budidaya yang optimal dan pemilihan komoditas yang bernilai ekonomi tinggi untuk menutupi biaya operasional penggunaan sumur pompa. Namun disisi lain pilihan komoditas yang memiliki nilai ekonomi tinggi belum sepenuhnya dapat diperkirakan oleh petani. Karena itu diperlukan pengujian tanaman melon dengan pemberian mulsa dan biostimulan yang dilengkapi dengan paket teknologi pemupukan.

Melon merupakan tanaman buah-buahan musiman yang berumur pendek. Melon  banyak dikonsumsi sebagai buah segar dan merupakan salah satu jenis buah utama yang mesti tersedia untuk memenuhi kebutuhan pariwisata disamping buah lainnya seperti pepaya, pisang, semangka, mangga ,nenas dan buah tropis lainnya. Melon saat ini tidak hanya dikonsumsi sebagai buah segar atau buah meja saja,  melon juga dihidangkan dalam bentuk jus melon di restoran-restoran. Berbagai produk makanan maupun minuman, seperti sirup dan permen, menyajikan melon sebagai pilihan rasa.

Peningkatan produktivitas tanaman dan mutu buah, khususnya melon, sangat diperlukan untuk pemenuhan kebutuhan dan tuntutan pasar yang semakin meningkat,  baik dalam jumlah maupun kualitas, maupun keragaman buah itu sendiri, sejalan dengan meningkatnya pendapatan dan pengetahuan masyarakat yang semakin memahami pentingnya nilai gizi didalam meningkatkan kualitas hidup. Kebutuhan buah-buahan di Bali sangat besar, baik untuk keperluan konsumsi rumah tangga, kelengkapan upacara maupun untuk menunjang kebutuhan pariwisata. Di lain pihak lahan-lahan pertanian beririgasi di daerah Bali dari tahun ke tahun terjadi penyusutan luas akibat beralih fungsi menjadi lahan-lahan non pertanian. Oleh karena itu alternative untuk perluasan areal panen adalah dengan pengembangan melon di lahan kering.

Hadirnya sumur pompa di lahan kering yang dibangun melalui Proyek SDIABKA telah membawa perubahan pada pola pemanfaatan air dan budidaya tanaman di kecamatan Tejakula, khususnya pada lokasi-lokasi yang telah dibangun sumur pompa. Pola pemanfaatan air hujan di musim hujan untuk budidaya tanaman seperti jagung, rumput-rumputan, kacang tanah, dan sebagainya, dapat dilakukan pada musim kering, sudah tentu dengan memanfaatkan air irigasi sumur pompa. Meskipun demikian perlu dilakukan pemberian air secara teratur dengan fluktuasi jumlah air total tidak terlalu besar sepanjang kehidupan tanaman, sehingga akan ideal untuk jenis tanaman yang dibudidayakan dan dapat berproduksi tinggi ( Haryadi, 1979). Pemberian air terlalu banyak akan menstimulir pertumbuhan vegetatif berlebihan (Prawiranata et.al. 1988). Diwilayah kering dengan penguapan yang tinggi diperlukan perlakuan budidaya untuk mengurangi tingkat penguapan, yaitu diantaranya dengan melakukan manipulasi lingkungan tumbuh tanaman dengan memanfaatkan mulsa.

Mulsa merupakan  bahan atau material yang sengaja dihamparkan di permukaan tanah atau lahan pertanian. Mulsa dapat berupa bahan-bahan alami maupun bahan sintetis seperti mulsa yang dibuat dari plastik polietilen.

Mulsa bermanfaat untuk pencegahan erosi pada musim penghujan atau pencegahan kekeringan tanah pada musim kemarau (Andry,1999) Namun, dewasa ini ternyata pemulsaan juga dapat diterapkan untuk tujuan-tujuan lainnya seperti untuk peningkatan penangkapan radiasi matahari oleh daun-daun tanaman. Pemberian mulsa juga berkaitan erat terhadap kadar air tanah, suhu tanah, udara tanah, dan refleksi radiasi matahari oleh permukaan tanah. Dengan kata lain, pemulsaan berhubungan langsung dengan mikrolimat (iklim mikro) tanah dan tanaman.

Hasil tanaman adalah fungsi dari pertumbuhan tanaman. Oleh karena itu dalam kondisi tekanan air (deficit air) akan menurunkan hasil tanaman (Wirosoedarno & Hardjoamidjojo, 1988); Tylor dan Overton, 1982). Penurunan hasil ini berhubungan dengan menurunnya metabolisme tanaman. Kramer (1977) menunjukkan adanya penghambatan pembentukan auksin pada tanaman yang menderita tekanan air disamping menurunnya aktivitas sitokenin dan penyediaan gibberillin ke batang (Utomo dan Islami, 1994). Beberapa peneliti melaporkan bahwa penggunaan Biostimulan dapat mengatasi permasalahan kekurangan hormone sitokenin pada tanaman dan meningkatkan prosentase bunga jadi buah serta jumlah buah pertanaman (Arimbawa dkk, 2001).

Biostimulan Super Bionik dapat berfungsi didalam menstimulasi pertumbuhan tanaman dan didalamnya terkandung senyawa sitokinin, giberellin, IAA, asam amino, vitamin dan asam-asam organik seperti humik dan fulval,  dan juga terdapat unsur hara makro (N, P, K, Ca, Mg dan S) unsur hara mikro (Bo, Fe, Zn, Cu,Cl,Co dan Mo). Manfaat biostimulan Super Bionik adalah untuk merangsang pembentukan daun, merangsang sitokinesis sehubungan dengan pertumbuhan dan perkembangan tanaman, meningkatkan efisiensi pemupukan, merangsang pertumbuhan pucuk atau titik tumbuh kearah lateral (Anon, 2003).

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh interaksi antara pemberian biostimulan dan beberpa jenis mulsa yang dibandingkan dengan kontrol pada buah melon Sky Rocket serta tingkat keuntungan yang diperoleh dalam sistem budiday memanfaatkan pengairan sumur pompa.

II. METODA PELAKSANAAN

2.1. Pendekatan

Pengkajian ini merupakan pengkajian adaptasi teknologi spesifik lokasi yang dilaksanakan di lahan petani ( On-Farm Trial ) dengan orientasi pada pengguna dan melibatkan partisipasi petani kooperator.

2.2. Lokasi dan waktu

Pengkajian ini dilaksanakan di Dusun Ngis, desa Tembok, kecamatan Tejakula, Buleleng, di wilayah sistem irigasi sumur pompa Kelompok Pemakai Sumur Pompa (KPSP) Mekar Wangi, TMB 20A pada musim kemarau bulan Juli 2003.

2.3. Rancangan

Luas lahan yang digunakan dalam pengkajian ini 2000 m2 dengan lebar bedengan 100 cm dan panjang bedengan mengikuti ukuran petak alami lahan petani. Petak bedengan tersebar pada 3 petani yang berdekatan. Jarak antar bedengan mencapai 60 cm. Tinggi bedengan mencapai 30 cm.

Percobaan menggunakan rancangan faktorial dengan 6 kali ulangan

Perlakuan yang diuji adalah pengaruh jenis mulsa dan pemberian biostimulan Super Bionik. Dari perlakuan yang diuji maka diperoleh kombinasi sebagai berikut :

P1 : Pemberian biostimulan + penggunaan mulsa plastik hitam perak (PHP)

P2 : Tanpa pemberian biostimulan +  penggunaan mulsa plastik hitam perak (PHP)

P3 : Pemberian biostimulan + penggunaan mulsa seresah

P4 : Tanpa biostimulan + penggunaan mulsa seresah

Pengamatan dan analisis ditekankan pada aspek produktivitas dan analisis ekonomi untuk mengetahui peluang pengembangan dan adopsi sistem budidaya dengan memanfaatkan sumur pompa.

2.4. Bahan dan Alat

Bahan-bahan yang digunakan meliputi benih melon Sky Rocket, Urea, SP36, KCl, fungsida, bacterisida, pestisida, pupuk kandang, oker, mulsa plastik hitam perak (PHP), seresah tanaman sebagai mulsa, tali rafia, ajir bambu, selang plastik untuk penyiraman, gunting, timbangan, sprayer dan gembyor plastik.

Dalam penelitian ini digunakan varietas Sky Rocket produksi Known You Seed Taiwan.

Buah melon dari varietas sky rocket bentuknya bulat, warna kulitnya hijau kekuningan ditutupi jaring, warna dagingnya hijau muda, baunya harum, rasa buahnya sangat manis dengan kadar gula 12-13%, renyah, dan legit. Kulit buahnya tebal sehingga relatif tahan dalam pengangkutan dan penyimpangan. Varietas sky rocket di negara asalnya, Taiwan, mempunyai berat rata-rata 1,5 kg. Namun, varietas ini yang ditanam di Indonesia mempunyai berat buah rata-rata 2,0-3 kg apabila dipelihara hanya satu buah per tanaman. Varietas ini dapat dipanen mulai umur 55-65 HST di dataran rendah dan 75-90 HST di dataran menengah.

2.5. Pelaksanaan

Pengamatan dilakukan terhadap pengaruh yang diberikan oleh perlakuan tersebut diatas terhadap produktivitas dan aspek agronomis lainnya. Sedangkan aspek teknologi lainnya diaplikasikan dalam kondisi perlakuan yang sama yang meliputi kegiatan-kegiatan persiapan benih, persiapan dan pembuatan media semai, pemeliharaan bibit, pengolahan tanah dan pembuatan bedengan, pengendalian OPT, pemangkasan dan penyisaan buah, pemupukan, pemasangan ajir, dan pengapuran. Dalam tabel 1 diuraikan tahapan pelaksanaan di persemaian serta bahan-bahan yang digunakan. Sedangkan pada tabel 2 dirinci pelaksanaan di lahan pertanaman dan bahan-bahan yang digunakan.

Jarak tanam yang digunakan adalah  60 cm dalam baris dan 70 cm antar baris ( 60 cm x 70 cm) serta dengan jarak antar bedengan 65 cm. Dibutuhkan benih melon sebanyak 19.200 biji (tanaman) untuk penanaman per ha. Dari jumlah benih tersebut ( seluruh lobang tanam ) dibutuhkan cadangan 10 %, sehingga total benih yang digunakan per ha 21.120 benih/ha. Untuk menanam melon dalam jumlah dan jarak tanam tersebut dibuatkan ± 600  bedengan.

Dalam setiap kemasan 20 g varietas sky rocket berisi sekitar 650-900 benih, sehingga diperlukan 40 saset benih kemasan 20 gram Sky Rocket per ha atau 8 kemasan untuk penanaman 20 are. Kebutuhan total benih tersebut sudah termasuk perhitungan daya kecambah benih mencapai 90 %.

Dalam percobaan ini digunakan 8 saset benih melon varietas Sky Rocket untuk 120 bedengan dengan jumlah benih yang disemaikan mencapai 4224 tanaman.

Tabel 1. Dosis pupuk, insektisida, dan perbandingan media tanam dalam persemaian  yang digunakan untuk pembuatan benih kapasitas 20 are dan 1 ha.

Jenis Pupuk

Dan Obat-obatan

Dosis dan Aplikasi
Kebutuhan untuk pemenuhan bibit 20 are Kebutuhan untuk pemenuhan bibit 1 ha Aplikasi
NPK 1.2 kg 6 kg Dicampur dengan pasir,tanah dan pupuk kandang kemudian di ayak halus
Hyponex 28 gram 1.40 kg Dilarutkan dengan 1 lt air untuk 1 gram Hyponex dan disemprotkan pada bibit.Diberikan 7 hari setelah semai
Pupuk kandang 150 kg 750 kg Dicampur dengan pasir dan tanah kemudian di ayak halus
Furadan 1 kg 5 kg Dicampur dengan media semai yang telah diayak
Benlate 3.5 grm 17.5 grm Setiap 0.5 gram dilarutkan dengan 2 lt air.Disemprotkan 3 hari sebelum pindah tanam.
Bakterisida 7 grm 35 grm Setiap 1 gram dilarutkan dengan 2 lt air.Disemprotkan 2 hari sebelum pindah tanam.

Pengairan selama pembibitan adalah dengan sistem penyiraman menggunakan “gembyor” yang diberikan setiap hari. Sementara itu pengairan yang diberikan pada tanaman di lahan pertanaman atau bedengan adalah dengan menggunakan selang yang dialirkan dengan sistem furrow pada pertanaman yang menggunakan mulsa plastik. Mulsa plastik dimanfaatkan sebagai penampung air (reservoir) selama 3 hari, dimana setiap hari air diambil dari reservoir tersebut dengan menggunakan kaleng. Hal ini dilakukan dalam upaya memberikan frekuensi pemberian air yang optimal mengingat lahan di lokasi penelitian lempung berpasir. Aliran air ke areal pertanaman adalah setiap 3 hari sekali atau seminggu dua kali, berdasarkan jatah atau giliran perolehan air dari sumur pompa.

Untuk tempat memanjat tanaman dan tempat bertahannya buah maka digunakan ajir atau gelagar dengan sistem silang dibagian atas dimana antar ajir disambungkan bambu yang melintang horizontal. Ajir dipasang berhadap-hadapan sehingga berbentuk kerucut segitiga dan menyilang dibagian atas pada setiap bedengan.

Dosis pemupukan ketika di pertanaman (bedengan) diberikan berdasarkan takaran tabel 2. Total pupuk utama yang diberikan pertanaman selama fase pertumbuhan dan pembuahan mencapai 150 gram yang terdiri atas 35 grm ZA, 25 grm Urea, 50 grm SP36 dan 40 grm KCl. Diberikan bertahap berdasarkan persentase total campuran (dari campuran 150 grm) selama pertumbuhan yaitu 30 grm I, 40,5 grm II, 49,5 grm III dan 30 grm IV.

Tabel 2. Dosis Kapur, Pupuk, Insektisida yang digunakan dilahan pertanaman dalam percobaan tanaman melon Sky Rocket

Macam Pupuk

Dan Insektisida

Dosis dan Aplikasi
Per Tanaman Per Hektar (populasi 19.200 tanaman) Aplikasi
Kapur pertanian 88 grm 1,69 ton Ditebarkan pada larikan baris tanaman dan mencampurkannya dengan tanah pada lahan,2 minggu sebelum tanam,secara bersamaan (dolomit dan pupuk kandang)
Pupuk kandang 1,5 kg 28,8 ton
ZA 35 grm 672 kg Diberikan dalam % dari total campuran pupuk ZA+Urea+SP36+KCl yaitu 20 % sebagai pupuk dasar pada 7 hari sebelum tanam, 27 % pemupukan susulan I (10 hari setelah tanam,hst),33 % pemupukan susulan II (20 hst), 20 % pemupukan susulan III (35 hst)
Urea 25 grm 480 kg
SP-36 50 grm 960 kg
KCl 40 grm 768 kg
KNO3 merah 5 grm 100 kg Dikocor dalam larutan air 14 hst
KNO3 putih 5 grm 100 kg Ditaburkan sekitar perakaran 3 minggu setelah tanam.Diberikan setelah pemberian KNO3 merah
Super Bionik 0.5 cc 9,6 lt Diberikan pada saat inisiasi bunga, disemprotkan 30, 40, 50 hst, atau interval 7 – 10 hari.
Bakterisida (Agrymicin) 0,03 grm 0,5575 kg 60 grm Bacterimycin dicampurkan dalam 50 lt air. Setiap tanaman membutuhkan 25 cc larutan, diaplikasikan 20 hst.
Fungsisida (Benlate) Insektisida (Dimacide 400EC,Petrogenol)     Diaplikasikan sesuai dengan tingkat serangan dan anjuran aplikasi.

III. HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1. Karakteristik lokasi

a. Bio Pisik

Penelitian ini dilakukan di dusun Ngis, desa Tembok, kecamatan Tejakula pada wilayah Kelompok Pemakai Air Sumur Pompa (KPSP) Mekar Wangi dengan kode sumur TMB 20A.   Rata-rata curah hujan diwilayah kecamatan selama 11 tahun terakhir (1992 sd 2002) adalah 118.36 mm/bulan dengan lama hari hujan rata-rata 5.52 hari. Pengamatan pada tahun 2003 menunjukkan bahwa musim kering mulai pada bulan Mei sd November. Pada bulan Agusus dan September sama sekali tidak ada hujan. Bulan Mei hanya ada hujan dua kali dengan curah hujan 17 mm dan bulan Juli hanya terjadi hujan 1 kali dengan curah hujan 19 mm. (Data curah hujan dari Stasiun Klimatologi SPMA Kubutambahan,Buleleng ). Untuk irigasi dalam percobaan ini menggunakan sumber air irigasi Sumur Pompa yang dikelola oleh KPSP Mekar Wangi.

 

Hasil study yang dilakukan oleh Verheye dan Pardede ( 1994) menyebutkan bahwa wilayah desa Tembok sampai dengan perbatasan Tianyar dicirikan dengan tanah lapisan pasir berlempung dengan ketebalan 30 – 40 cm dengan subsoil yang rendah. Akibatnya kandungan kelembaban bagian atas perakaran mengalami penurunan secara serius dan perakaran tanaman yang dangkal terancam dari stress kelembaban jika tidak diairi dengan tepat. Dari sudut kandungan kimia, tanah di wilayah ini lebih miskin dari pada dibagian barat (desa Tejakula). Hal ini ditunjukkan oleh rendahya kandungan kapasitas tukar kation (KTK), pH dan nitrogen.

Dari analisis tanah yang dilakukan di Laboratorium Tanah Universitas Brawijaya, Malang, Jawa Timur, pada tahun 2005 (Anon, 2005) diperoleh bahwa lahan di wilayah desa Tembok merupakan lahan yang memiliki tekstur dari lempung berpasir, pasir berlempung sampai dengan berpasir dengan komposisi liat 2 sd 5 %, debu 8 sd 23 %, dan pasir 72 sd 90 %.

Tanah di wilayah KPSP TMB 20A, desa Tembok menunjukkan persentase KTK 6.86 %. KTK merupakan kemampuan tanah untuk menahan dan pertukaran kation (ion positiv). Novizan (2002) mengatakan bahwa pada tanah yang berpasir memiliki KTK yang rendah dibandingkan pada tanah liat. Semakin tinggi nilai KTK maka akan semakin subur tanah tersebut dan kemampuan tanaman untuk menyerap hara akan semakin tinggi pula. Anon (1995) menjelaskan bahwa pada tanah yang memiliki nilai KTK 1 sd 10 memiliki kandungan pasir yang tinggi, unsur nitrogen dan kalium mengalami pencucian, rendahnya kemampuan tanah menahan air (low water-holding capacity), dan kurangnya kapur untuk meningkatkan pH. Sementara itu pH di lokasi  penelitian mencapai 5,5. Tanaman melon membutuhkan pH pada kisaran pH 6 sd 6,8. Tanaman melon tidak akan berproduksi optimal apabila diusahakan di daerah yang bertanah masam (pH < 5,6).

Tanah yang berada pada pH tersebut mengandung ion H+ lebih besar dari pada ion OH. Karena itu diperlukan penambahan kapur dolomit untuk mencapai pH 7 (netral). Novizan (2002) mengatakan bahwa tanah yang bersifat asam akan berkurangnya kation kalsium, magnesium, kalium, atau natrium.  Unsur-unsur tersebut terbawa oleh aliran air ke lapisan tanah yang lebih bawah (pencucian) atau hilang diserap oleh tanaman.  Karena ion-ion positif yang melekat pada koloid tanah berkurang, kation pembentuk asam seperti hidrogen dan aluminium akan menggantikannya. Calisbury dan Ross (1995) menyebutkan bahwa beberapa tanaman memang dapat hidup pada pH yang ekstrim yaitu pada tingkatan pH rendah maupun tinggi, pada tanah asam ataupun basa. Kalsium (Ca) pada tanah asam akan kurang tersedia dan akan menghambat pertumbuhan tanaman karena ion H+ menjadi beracun bagi akar tanaman. Disamping itu juga, tanah yang memiliki pH rendah atau asam akan merusak  ketersediaan pospat dan juga menghabat penyerapan besi. Hal yang serupa juga dijelaskan oleh Novizan (2002) bahwa pada kondisi tanah masam, beberapa unsur hara terutama fosfor (P), kalsium (Ca) dan beberapa unsur mikro sulit terserap oleh tanaman karena terikat oleh unsur-unsur aluminium (Al), mangan (Mn), dan besi (Fe). Tanah masam juga sebagai media yang baik bagi perkembangan patogen seperti cendawan penyebab layu fusarium (Fusarium oxyporum f. sp lagenariae Matsuo et  Yamanoto) dan rebah semai (Pythium ultimumi Trow). Kemasaman tanah dapat ditingkatkan dengan menambahkan kapur pertanian berupa dolomit.

Rasio C/N tanah di wilayah penelitian mencapai 8 %. Rasio C dan N (C/N ratio) menunjukkan rasio antara bobot C organik terhadap total N dalam tanah atau dalam material organik. Novizan (2002) menyatakan bahwa kualitas kompos yang baik jika memiliki rasio C/N 12 % – 15 %. Pada rasio C/N 12 % sd 20 %,unsur hara yang terikat pada humus telah dilkepaskan melalui proses mineralisasi sehingga dapat digunakan oleh tanaman. Kandungan C organik mencapai 0,78 % dan bahan organik 1.355%.  Lebih lanjut dari analisis tanah diperoleh kandungan P  46,15 mg/kg, K 1,10; Na 0,5; Ca 3,45; Mg 1,3 dan N total 0,09 %.

b. Pola Tanam

Sebagian besar vegetasi yang ditanam oleh petani di desa Tembok adalah tanaman tahunan. Potensi vegetasi serta pola tanam dan usahatani yang dilakukan oleh anggota KPSP Mekar Wangi,TMB 20A adalah seperti yang diuraikan dalam tabel 3. Pada musim hujan, petani menanam tanaman utama musiman seperti jagung, kacang tanah,cabe dan ubi jalar (ubi jalar dipanen daunnya untuk pakan ternak babi) dn ketela pohon. Petani memanfaatkan air hujan untuk pengairan, terutama untuk tanaman jagung, kacang tanah dan cabe. Tetapi pada musim kemarau petani memanfaatkan air sumur pompa untuk mengairi  tanaman ubi jalar, rumput raja dan cabe.

Untuk tanaman utama tahunan, petani menanam mangga, kelapa, rambutan, jeruk dan mete, dimana umumnya pengairan diperoleh dari air hujan. Sementara itu tanaman semi tahunan, petani mengusahakan tanaman utama pisang, rumput raja (King Grass,  Penicum maximum)dan rumput gajah (Elephant Grass , Pennisetum purpureum), serta pepaya.

Tabel 3. Pola Usahatani di Wilayah KPSP Mekar Wangi, TMB 20A, desa Tembok, Tejakula,Buleleng, 2003

TANAMAN DAN TERNAK BULAN

MUSIM HUJAN MUSIM KERING
Des Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Ag Sep Okt Nov
1.Tanaman Tahunan                        
a.Mangga                        
b.Rambutan                        
c.Jeruk                        
d.Anggur                        
2.Semi Tahunan                        
a.Pisang                        
b.Pepaya                        
c.Rumput pakan ternak                        
3.Musiman                        
a.Cabe lokal                        
b.Jagung                        
c.Kacang tanah                        
d.Ubi jalar (daun)                        
4.Musiman (Pilihan)                        
a.Kacang panjang                        
b.Paria                        
c.Mentimun                        
d.Terong                        
e.Bawang merah                        
f.Semangka                        
g.Kacang-kacangan                        
5.Ternak                        
a.Sapi                        
b.Babi                        
c.Ayam kampung                        

Petani juga menanam tanaman leguminosa untuk pakan ternak seperti gamal (Gliricidia sp), lamtoro ( Leucaena sp) yang ditanam sebagai pagar pekarangan dan pembatas lahan. Tanaman waru, santen dan dapdap juga diusahakan petani dalam kaitan sebagai sumber hijauan pakan ternak serta sekaligus merupakan tanaman rehabilitasi lahan.

Jenis vegetasi yang diusahakan petani sangat terkait dalam upaya penyediaan pakan ternak yang banyak dipelihara oleh sebagian besar petani. Seluruh anggota petani KPSP Mekar Wangi (100%) memelihara ternak sapi yang mana sumber pakannya diperoleh dari hijauan dan rumput yang ditanam petani. Ternak babi dipelihara oleh 70% anggota KPSP dimana sumber pakannya diperoleh dari daun ubi jalar.

3.2. Pengairan LAPORAN ACTION,RINGKAS


Air mutlak diperlukan tanaman melon sebagai pengangkut unsur-unsur hara dari dalam tanah ke bagian atas tanaman, membantu proses pembentukan zat makanan di dalam daun tanaman (fotosintesis), sebagai pengedar hasil fotosintesis ke seluruh bagian tanaman, dan sebagai penyusun tubuh tanaman. Diperlukan air yang cukup untuk pertumbuhan dan produksinya karena seperti halnya semangka, lebih dari 90% kandungan buah melon terdiri dariair.

Tanaman melon sangat peka terhadap air yang menggenang sehingga sistem drainase pada lahan melon perlu mendapat perhatian utama. Prajnanta (1999) mengatakan bahwa pemberian air yang terlambat akan menyebabkan bentuk melon tidak normal. Pemberian air yang tiba-tiba pada saat pembentukan jaring menyebabkan pembentukan jaring tidak normal, seolah-olah pecah. Buah melon yang ditanam pada musim kemarau akan menghasilkan buah yang besar, manis, renyah, berwarna cerah, dan lezat karena kandungan airnya tidak berlebihan. Sebaliknya, buah melon yang dihasilkan pada musim hujan biasanya berukuran kurang besar, terlalu banyak kandungan air sehingga rasanya kurang manis dan kurang tahan lama disimpan.

Air merupakan faktor pembatas di desa ini. Namun setelah dibangun sumur pompa pada tahun 1997, maka petani dusun Ngis, desa Tembok, kecamatan Tejakula,Buleleng, khususnya petani yang tergabung dalam kelompoktani KPSP Mekar Wangi,TMB 20A, dapat memanfaatkan air irigasi yang bersumber dari sumur pompa air tanah untuk mengairi tanamannya, terutama dimusim kering.

Digunakan metode irigasi furrow yang dikombinasikan dengan penggunaan PHP sebagai tempat penampungan air (reservoir), terutama pada perlakuan yang menggunakan mulsa PHP. Pada perlakuan yang menggunakan mulsa seresah, metode pengairan menggunakan sistem furrow.

Perolehan air pada masing-masing petani mengikuti jadwal yang telah disepakati dalam kelompok yaitu setiap 2 kali seminggu dan petani bisa mendapatkan air tambahan dari pelelangan air sekali setiap hari minggu. Lama waktu setiap kali perolehan air adalah 2 jam. Debit air rata-rata 6,5 lt/detik. Sistem jaringan irigasi KPSP Mekar Wangi TMB 20A terbagi menjadi 6 blok dan masing-masing blok terdiri atas 4 sd 6 ocoran. Air yang mengalir pada petak lahan (on-farm) atau ocoran untuk setiap kali pengairan mencapai 1,6 lt/detik. Dalam waktu 2 jam akan dialirkan sebanyak  11.52 m3 air ke areal petak lahan per petani. Debit air tersebut diberikan bagi tanaman untuk kebutuhan 3 hari, karena mengikuti pergiliran atau pergantian perolehan air. Kebutuhan air rata-rata pada tanaman ditetapkan sebesar 4,5 mm/hari sd 5 mm/hari (Adrean, 2003 dan Anon 2003). Untuk tanaman melon, rata-rata membutuhkan air 3,5 mm/hari. Untuk penanaman melon seluas 20 are, akan dibutuhkan 21 m3 setiap 3 hari giliran pengairan atau 7 m3 setiap hari. Sementara itu ketersediaan air hanya mencapai 11.52 m3 per 3 hari. Karenanya, petak perlakuan dilaksanakan pada  3 petani yang terpisah namun berdekatan sehingga kebutuhan air perpetani untuk setiap 3 hari pengairan mencapai 6 sd 8 m3/3 hari, dimana kapasitas debit air tersebut mampu menyediakan kebutuhan air bagi tanaman melon dalam luas antara 5 sd 8 are.

Masalah yang sering muncul dalam pengairan dengan menggunakan sumber dari sumur pompa di KPSP Mekar Wangi, TMB 20A ketika penelitian dilaksanakan adalah petani juga memiliki tanaman lainnya, seperti ubi jalar dan jagung yang membutuhkan air dalam pertumbuhannya. Disamping itu juga, tanah pasir berlempung di lokasi penelitian hanya mampu menahan air 10 mm/15 cm. Pada kondisi ini, meningkatkan frekuensi pemberian air sangat diperlukan karena tanah memiliki porositas yang tinggi. Dalam upaya memecahkan persoalan ini, maka mulsa PHP dimanfaatkan sebagai penampung air. Dengan pendekatan ini, tanaman dapat disiram setiap hari sesuai dengan kebutuhannya.

Kantung reservoir pada mulsa PHP dibuat dengan ukuran kedalaman 15 cm dengan lebar bawah serta atas 25 cm. Sehingga untuk panjang bedengan 8 m dapat menampung air sebanyak 0.3 m3. Jumlah air dalam reservoir tersebut dapat memenuhi kebutuhan air tanaman melon selama 3 hari bagi 26 tanaman yang memiliki jarak tanam 60 cm x 70 cm per bedengan dengan panjang bedengan 8 meter. Meskipun demikian, kelemahan dalam sistem ini adalah tidak tahannya mulsa PHP terhadap jenis rumput teki yang mana rumput ini dapat menembus PHP sehingga menyebabkan bocor. Karena itu, disamping memanfaatkan PHP sebagai reservoir, digunakan juga drum kapasitas 200 lt untuk menampung air di masing-masing petak lahan percobaan.

Kekurangan air akan menyebabkan buah melon tidak tumbuh dengan baik terutama pada phase pertumbuhan dan dewasa dan mengakibatkan ukuran buah menjadi kecil. Disisi lain, pemberian air yang berlebihan pada saat pembentukan buah akan menyebabkan pengisian jaring tidak sempurna dan pemberian yang tiba-tiba terlalu berlebihan akan menyebabkan buah menjadi pecah.

3.3. Serangan OPT

Dalam budidaya melon, hama penyakit menjadi kendala utama disamping keterbatasan air dilahan kering. Hama-hama utama yang menyerang tanaman pada saat penelitian adalah serangan hama lalat buah (Bactocera dorsalis), gayas ( Lepidiota stigma ), thrips (Thrips parvispinus Karny), kutu Aphids (Aphis gossypii Glover), dan kumbang daun (Aulacophora Femoralis Motschulsky). Sementara itu terdapat juga hama yang menyerang tanaman dalam persentase serangan yang rendah seperti ulat tanah (Agrotis ipsilon Hufn), dan nematoda puru akar (Meloidagyne incognita Kof et Wh.).

Jenis penyakit utama yang menyerang tanaman antara lain penyakit layu bakteri (bacterial wilt), penyakit embun bulu (downy mildew), dan penyakit busuk pangkal batang (gummy stem blight) serta sebagian kecil serangan oleh penyakit busuk leher batang, penyakit layu fusarim, busuk cabang/tangkai (Stem-end rot), penyakit busuk buah dan bercak bakteri (angular leaf spot),powdery mildew (penyakit tepung) yang disebabkan oleh cendawan Erysiphe cichoracearum DC.ex  Merat, penyakit virus yang disebabkan oleh Watermelon Mozaic Virus.

Serangan hama lalat buah dimulai sejak lalat buah betina dewasa menusuk melon untuk meletakkan telurnya di dalam buah. Empat hari kemudian telur menetes menjadi larva yang memakan isi buah melon. Luka tusukan yang ditandai dengan keluarnya lendir coklat kemerahan. Melon yang terserang lalat buah menjadi busuk, rusak dan tidak berharga. Serangan hama lalat buah dikendalikan dengan memasang perangkap (sex pheromone) yang berbahan aktif methyl eugenol ( petrogenol) pada bekas botol air mineral. Digunakan kapas yang  dibasahi dengan sedikit methyl eugenol yang kemudian ditaruh di dalam botol yang diisi sedikit air air insektisida. Lalat buah jantan akan terperangkap karena bau methyl eugenol seperti sekresi yang dikeluarkan lalat buah betina pada saat birahi. Akibatnya lalat buah jantan mati karena insektisida atau terjatuh dalam air. Menurunnya populasi lalat buah jantan menyebabkan lalah buah betina tidak ada yang membuahi. Dengan demikian, populasi lalat buah akan menurun.

Sedangkan untuk hama gayas (sebutan lokal) merupakan hama tanaman yang bersifat polipag, bentuk larva dari serangga Lepidiota stigma, yang pada umumnya memakan akar tanaman sehingga menyebabkan terputusnya sistem perakaran dan menyebabkan tanaman menjadi mati. Warna gayas coklat keputihan seperti susu. Siklus hidup serangga lepidiota stigma melewati 4 fase yaitu: fase telur, larva, pupa dan imago (serangga dewasa).  Fase imago disebut ‘telebo’ (lokal Bali). Serangga dewasa betina lebih besar dari yang jantan.  Imago biasa hidup di pohon, makan getah atau air daun, dan fase ini tidak begitu berbahaya bagi tanaman.  Imago hidup 3-4 bulan.  Semasa hidup hama gayas kawin kemudian bertelur di tanah,di dalam serasah atau sampah.  Telebo bertelur 18 butir, berwarna putih, bila menjelang menetas berwarna agak kecoklatan.  Telebo meletakkan telur di permukaan tanah pada sampah. Setelah menetas larva perlu segera mencari makan, dan makanannya adalah serasah yang digunakan telebo untuk meletakkan telurnya. Larva yang baru (menetas dari telur) hidup pada kedalaman 5-10 cm.  Makin tua umurnya  makin besar tubuhnya dan hidup pada kedalaman 30-40 cm.  Stadium larva terjadi  paling lama dalam siklus hidup hama ini yaitu sekitar 4-6 bulan.  Hal ini  menyebabkan kerusakan pada tanaman di dalam tanah dan menimbulkan kerugian yang bisa jadi cukup serius.  Larva memakan akar tanaman dan juga umbi.

Pengendalian hama ini dilakukan dengan penyiangan gulma dan pembersihan sampah kebun sebelum penanaman, pengumpulan telur larva dan imago untuk dimusnahkan, dan penggunaan pestisida butiran  dengan bahan aktif carbofuran dan diazinon. Pada tahapan pengendalian serta menekan serangan secara luas, pengendalian terpadu secara luas dilakukan dengan penangkapan imago dengan perangkap lampu dilakukan mulai pukul 19.00-22.00, dalam upaya menekan hama dewasa. Serangan hama gayas pada saat percobaan mencapai 5 sd 10 % dari tanaman disetiap bedengan.

Hama thrips menyerang sejak fase pembibitan sampai tanaman dewasa. Nimfa thrips berwarna kekuning-kuningan, sedangkan thrips dewasa berwarna cokelat kehitaman. Thrips berkembang biak sangat cepat secara partenogenesis (mampu melahirkan keturunan meskipun tanpa kawin). Daun-daun muda atau tunas-tunas baru yang terserang menjadi keriting, bahkan bercak-bercak kekuningan. Tanaman keriting dan kerdil serta tidak dapat membentuk buah secara normal. Serangan hama ini dapat menularkan virus yang dibawa hama thrips. Pengendaliannya adalah dengan mencabut tanaman yang telah terserang (karena virus sudah menyerang melalui thrips) dan membakarnya atau membenamkannya pada tempat yang berjauhan dari areal pertanaman.

Hama kutu aphid menyerang tanaman melon yang ada di lahan penanaman. Aphids muda yang menyerang melon biasanya berwarna kuning, sedangkan aphids dewasa mempunyai sayap dan berwarna agak kehitaman. Hama ini mampu berkembang biak secara partenogenesis sehingga perkembangbiakannya sangat cepat dan sulit dikendalikan karena aphids dapat beranak tanpa kawin terlebih dahulu. Hama ini seperti juga thrips termasuk hama polifag (menyerang berbagai macam tanaman) dan juga dapat sebagai vektor penyakit virus. Daun tanaman menggulung dan pucuk tanaman menjadi keriting akibat cairan daunnya diisap hama. Ciri lain yaitu adanya getah cairan yang mengandung madu dan dari kejauhan mengilap. Di beberapa daerah, hama aphids disebut sebagai “hama lengket“. Untuk menghindari perpindahan hama, penanaman melon pada satu hamparan dilakukan secara serempak sehingga tidak terdapat perbedaan umur. Gulma dibersihkan agar tidak menjadi inang hama. Serangan hama ini tidak menyerang secara luas dan pengendalian dilakukan dengan mencabut tanaman yang terserang.

Hama  kumbang daun tidak hanya menyerang melon, tetapi juga menyerang tanaman Cucurbitaceae lainnya seperti mentimun dan semangka. Di beberapa daerah, hama ini dikenal petani sebagai oteng-oteng. Pada luka bekas serangan hama oteng-oteng terdapat keratan berupa guratan-guratan konsentris pada daun. Pada stadia larva, hama oteng-oteng menyerang jaringan perakaran sampai pangkal batang. Apabila tanaman melon layu belum tentu disebabkan oleh penyakit. Untuk itu, tanaman perlu dicabut dan diperiksa bagian perakarannya. Apabila setelah diperiksa ternyata pada bagian perakaran rusak dan penuh dengan larva maka dapat dipastikan larva tersebut adalah larva oteng-oteng. Hama ini selain merusak daun dan perakaran dapat pula sebagai vektor penyakit layu bakteri. Pengolahan tanah harus sempurna sehingga dapat mematikan kumpulan telur atau pupa hama ini yang ada di dalam tanah. Tanaman yang layu segera dicabut dan dibakar sehingga larva-larva hama oteng-oteng akan mati. Pengendalian secara kimia dengan insektisida yang bersifat kontak seperti Dimacide 400 EC.

Hama yang memotong tanaman melon di pembibitan atau setelah bibit ditanam di lahan biasanya adalah ulat tanah (Agrotis ipsilon Hufn).  Pada pangkal batang yang terpotong terdapat luka bekas gigitan serangga. Apabila pada bagian tanamn yang terpotong itu terlihat bekas dimakan maka kemungkinan penyebabnya adalah ulat ta tanah yang biasa disebut juga sebagai ulat pemotong (cut worm). Namun, bila bekas potongan ini dibiarkan utuh maka penyebabnya adalah gangsir. Pengolahan tanah pada saat  pembentukan bedengan harus sering dibalik dan diangin-anginkan agar sisa-sisa larva, pupa, atau imago hama mati. Pembersihan gulma di lingkungan pertanaman.

Sebelum pemasangan mulsa PHP, apabila perlu bedengan disemprot terlebih dahulu dengan insektisida, misalnya Dimacide 400 EC dengan konsentrasi 2 ml/l. Penyemprotan insektisida dilakukan pada saat tanaman menjelang dipindahkan ke lapangan dan seminggu setelah bibit ditanam di lapangan.

Hama nematoda yang menyerang melon biasanya adalah nematoda puru akar (Meloidagyne incognita Kof et Wh.). Serangan  nematoda pada melon dilaporkan sejak tahun 1995 di beberapa lokasi seperti di Bandungan-Ambarawa maupun Karanggede-Boyolali Jawa Tengah. Daun-daun tanaman menguning, pertumbuhan terhambat, dan tanaman layu. Apabila akar tanaman dicabut akan terlihat  pembengkakan (guru) pada akar. Apabila cairan akar yang bengkak ini diperiksa di bawah mikroskop akan terlihat nematoda betina, yaitu organisme seperti cacing yang berukuran sangat kecil sehingga tidak terlihat oleh mata telanjang. Luka tusukan pada akar karena serangan nematoda akan merangsang infeksi cendawan atau bakteri. Dilakukan rotasi tanaman, kalau dengan tanaman padi sawah sehingga nematoda yang tersisa akan mati.

Gulma-gulma di sekitar pertanaman dibersihkan karena dapat menjadi inang nematoda. Lahan yang pernah terinfeksi sebaiknya disterilisasi terlebih dahulu dengan bahan sterilisasi tanah Basamid G dengan dosis 40 g/m2.

Serangan hama tersebut diatas kecuali lalat buah, gayas dan kumbang daun sangat rendah yaitu kurang dari 0,1 %.

Penyakit yang umumnya menyerang tanaman melon adalah penyakit Layu bakteri (bacterial wilt). Varietas-varietas melon yang ada pada saat ini dikenal rentan terhadap penyakit layu bakteri. Daun tanaman layu satu per satu, meskipun warnanya tetap hijau, akhirnya tanaman layu secara keseluruhan. Apabila pangkal batang tanaman yang layu dipotong melintang maka akan mengeluarkan lendir putih kental dan lengket bahkan dapat ditarik seperti benang. Layu bakteri disebabkan oleh bakteri Erwinia tracheiphilla E.F. Sm. Penyakit ini dapat disebarkan dengan perantara kumbang daun oteng-oteng (Aulacophora femoralis Motschulsky). Pengaturan drainase, terutama pada musim hujan. Diusahakan tidak ada air yang menggenang di antara bedengan. Di sekitar tanaman melon sebaiknya bersih dari gulma dan kondisi bedengan kering (tidak terlalu lembap). Pengolahan tanah dilakukan dengan sempurna sehingga dapat mematikan telur maupun pupa hama ini. Sebelum ditanami, lahan disterlisasi dengan Basamid G dengan dosis 40 g/m2. Tindakan preventif, yaitu dengan perlakuan benih. Benih  direndam dalam larutan bakterisida Agrimycin (Oxytetracycline dan streptomycin sulface) atau Agrept (streptpmycin sulface) dengan konsentrasi 1,2 g/l dan penyemprotan bakterisida ini pada umur 20 HST.

Penyakit embun bulu (downy mildew) ini di tahun 1980-an belum merupakan penyakit serius tanaman melon. Namun, akhir-akhir ini menjadi ancaman serius bagi petani melon.Serangan dimulai dengan adanya bercak-bercak berwarna kuning muda yang dibatasi oleh urut-urut daun sehingga terksan menjadi bercak bersudut. Semakin lama bercak ini berubah warna menjadi kecoklat-coklatan. Apabila daun dibalik maka akan terlihat kumpulan cendawan berwarna kelabu. Penyakit embun bulu (downy mildew) atau tepung palsu (false mildew) disebabkan oleh cendawan Pseudoperenospora cubensis (Berkely et Curtis) Rostowzew. Lokasi tanaman dipilih yang bukan bekas atau jauh dari tanaman mentimunTanaman yang terserang parah dimusnahkan dengan cara dicabut dan dibakar agar tidak menular ke tanaman sehat Penyemprotan fungisida Precivur N (propamocarb hydrochloride) dengan konsentrasi 2-3 ml/l apabila serangan telah melewati ambang ekonomi.

Penyakit busuk pangkal batang mula-mula menyerang seperti tercelup minyak kemudian keluar lendir berwarna merah cokelat. Tahap  berikutnya tanaman layu dan mati. Selain menyerang batang penyakit ini juga menyerang daun. Daun tanaman yang terserang akan mengering, apabila diremas seperti kerupuk dan berbunyi kresek-kresek apabila diterpa angin. Oleh karena itu, penyakit ini disebut juga sebagai “penyakit kresek” yang disebabkan oleh cendawan Mycosphaerella melonis (Passerini) Chiu et Walker. Penggunaan mulsa plastik hitam-perak dapat mencegah kelembaban di sekitar pangkal batang dan mencegah luka di perakaran maupun pangkal batang karena penyiangan. Dilakukan sterilisasi lahan dengan Basamid G dengan dosis 40 g/m2. Daun-daun tanaman yang terserang dibersihkan (dirompes) kemudian tanaman disemprot dengan fungisida Derosal 500 SC (carbendazim) dengan konsentrasi 1-2 ml/l. Pangkal batang yang terserang dioles dengan larutan fungisida Calixin 750 EC (tridemorph) dengan konsentrasi 5 ml/l.

Penyakit busuk leher batang pada umumnya lebih banyak menyerang tanaman melon pada tahap pembibitan mulai dari sebelum perkecambahan (damping off) sampai umur tanaman 2 minggu setelah tanam. Pada pangkal batang terdapat bercak kebasah-basahan berwarna cokelat kehitaman lalu tiba-tiba bibit tanaman rebah dan mati. Serangan pada tanaman dewasa menyebabkan tanaman tiba-tiba layu dan mati. Di sekitar tanah perakaran sering ditemui miselium cendawan yang berwarna putih. Penyakit busuk leher batang banyak disebabkan oleh cendawan Pythium ultimum Trow., Pellicularia filamentosa (Pat.) Rogers, dan Sclerotium rolfsii Sacc.. Digunakan pupuk kandang yang telah benar-benar matang untuk menghindari cendawan pembawa penyakit. Hindari penyiraman yang berlebihan untuk mengurangi kelembaban.

Perlakuan benih dengan pencelupan benih pada larutan fungisida Precivur N dengan konsentrasi 2,0 ml/l selama 4 jam akan mengurangi serangan penyakit di pembibitan. Pada saat bibit 2-3 hari sebelum pindah tanam bibit disemprot dengan fungisida Derosal 500 SC (1 ml/l) dan diganti dengan Previcur N (2,0 ml/l) seminggu setelah tanam.

Penyakit layu fusarim mulai menyerang semenjak tanaman melon dalam fase pembibitan. Fusarim menginfeksi tanaman lewat perakaran dan berkembang di pembuluh kayu. Pada fase pembibitan, penyakit layu fusarim menyebabkan bibit gagal muncul ke permukaan tanah karena mati sebelum muncul ke permukaan tanah karena mati sebelum muncul. Seandainya  bibit dapat tumbuh pun akan menjadi bibit yang pertumbuhannya kerdil/terhambat. Apabila diamati pada batang terdapat goresan dan mempunyai masa spora cendawan berwarna merah jambu. Apabila batang dibelah tampak berwarna cokelat. Penyebab poenyakit ini adalah Fusarium oxyporum f. sp. melonis Snyd. Et Hans. Pengapuran lahan dilakukan untuk meningkatkan pH tanah karena patogen fusarium berkembang biak pada kondisi masam pH 4,5-5,8. Hindari pemupukan nitrogen (ZA atau Urea) yang berlebihan karena akan mengasamkan tanah.

Secara kimia, dapat dilakukan mulai dari perlakuan benih dengan menggunakan fungisida Derosal 500 SC 1,0 ml/l. Sebagai pencegahan, sejak tanaman mulai berbunga, setiap 14 hari sekali, tanaman disiram dengan larutan fungisida Derosal 500 SC 1,5 ml/l sebanyak 250 ml per tanaman.

Busuk cabang/tangkai pada melon sebenarnya cukup banyak terjadi di Indonesia, tetapi penyakit ini masih diabaikan oleh para petani. Serangan ditandai dengan mengerutnya ujung cabang/tangkai dan ditandai dengan warna coklat  karena terinfeksi patogen. Cendawan ini juga dapat menginfeksi ujung tangkai buah sehabis pemetikan. Perkembangan lebih lanjut, cendawan akan membentuk miselium berwarna putih kelabu pada permukaan buah. Penyakit busuk cabang/tangkai disebabkan oleh cendawan Botrydiplodia theobromae Pat. Hindari pelukaan yang tidak perlu pada bagian tanaman. Setelah perompesan daun dan cabang perlu dilakukan penyemprotan fungisida agar luka terlindungi dari infeksi. Fungisida untuk mengendalikan penyakit ini antara lain Derosal 500 SC (1-2) ml/l atau Delsene MX-200 (2 g/l).

Pemanenan harus dilakukan dengan hati-hati, buah melon jangan dilempar-lempar karena akan menyebabkan luka fisik yang mudah dimasuki patogen.

Penyakit busuk buah dapat menyerang batang, daun, maupun buah. Serangan pada batang ditandai dengan bercak coklat kebasahan yang memanjang. Serangan serius menyebabkan tanaman mati layu. Daun melon yang terserang seperti tersiram air panas kemudian meluas dan apabila tidak dikendalikan akan menggagalkan produksi. Serangan pada buah melon ditandai dengan bercak kebasah-basahan yang menjadi coklat kehitaman dan lunak. Makin lama bercak menjadi berkerut dan mengendap. Pada bagian buah yang busuk diselimuti kumpulan cendawan putih. Penyakit busuk buah pada melon ini disebabkan oleh cendawan Phytophthora nicotianae B de Haan var parasitica (Dast). Waterch maupun Phytophthora capsici Leonian. Selain disebabkan oleh Phytophthora sp., busuk buah melon disebabkan pula oleh Phythium aphanidermarum (Edson) Fitzp., I. Ultimum Trow, dan P. irregulare Buis. Kelembaban di sekitar tanaman dikurangi dengan cara memangkas daun atau cabang yang berlebihan. Dilakukan rotasi tanaman dengan tanaman yang bukan sefamili dengan melon. Secara khemis dengan penyemprotan fungisida sistemik Precivur N dengan konsentrasi 2-3 ml/l diselingi dengan fungisida kontak, seperti Vondozeb, Trineb, Sandofan MZ dengan konsentrasi 2,5 g/l.

Penyakit tepung (Powdery Mildew) ini akan menurunkan kadar gula, aroma buah, dan gagalnya  pembentukan “jaring” pada buah melon karena fotosintesis daun terhambat. Serangan ditandai dengan terdapatnya bercak-bercak bulat putih pada sisi bawah daun. Makin lama bercak-bercak ini menyatu dan akhirnya menutupi permukaan daun seolah-olah daun dilapisi oleh tepung putih. Penyebab Cendawan Erysiphe cichoracearum DC.ex  Merat .

Penyakit tersebut diatas, meskipun ditemukan di lokasi percobaan, namun serangannya masih sangat rendah, kecuali serangan penyakit downey mildew dan penyakit kresek yang menyarang tanaman secara luas namun itu terjadi menjelang panen.

3.4. Produktivitas

a. Rata-rata berat buah

Dari hasil percobaan menunjukkan bahwa penggunaan mulsa plastik hitam perak (PHP) yang dikombinasikan dengan pemberian bio-stimulan Super Bionik (P1) memberikan pengaruh terhadap berat rata-rata per buah melon varietas Sky Rocket, yaitu rata-rata mencapai 1,8 kg per buah. Dibandingkan dengan tanpa pemberian bio-stimulan dan dengan penggunaan mulsa seresah (P2), pemberian bio-stimulan dan dengan mulsa seresah (P3), serta tanpa pemberian bio-stimulan dengan mulsa seresah (P4), maka perlakuan P1 memberikan pengaruh yang signifikan terhadap rata-rata berat buah (tabel 3 dan grafik 1). Dibandingkan dengan kemampuan optimal diskripsi varietas melon dari daerah asalnya, Taiwan, dalam menghasilkan rata-rata berat per buah (1,5 kg per buah), maka perlakuan P1 memberikan rata-rata hasil yang lebih besar. Meskipun demikian,di Indonesia varietas Sky Rocket mampu mencapai berat 2 sd 3 kg per buah.

 

Tabel 3. Rata-rata berat buah melon sky rocket dengan beberapa perlakuan dalam percobaan di desa Tembok, kecamatan Tejakula, Buleleng, 2003.

No Perlakuan Rata-rata berat per buah, kg
1 Tanpa bio-stimulan dengan mulsa seresah (P4) 1,020 a
2 Tanpa biostimulan dengan mulsa PHP (P2) 1,240 b
3 Dengan biostimulan dan mulsa seresah (P3) 1,500 c
4 Dengan bio-stimulan dan dengan mulsa PHP (P1) 1,800 d
Rata-rata 1,390

Umboh (1999) menyatakan bahwa pemberian mulsa bermanfaat  dalam hal kompetisi dengan tanaman pengganggu (gulma) untuk memperoleh sinar matahari. Agar dapat berkecambah, benih gulma membutuhkan sinar matahri. Dengan adanya bahan mulsa di atas permukaan tanah, benih gulma tidak mendapatkan sinar matahari. Kalaupun ada sinar matahari, misalnya pada mulsa jerami atau plastik transparan, pertumbuhan gulma akan sangat terhalang. Akibatnya tanaman yang ditanam akan bebas tumbuh tanpa kompetisi dengan gulma dalam penyerapan hara mineral tanah. Berikut adalah beberapa manfaat pemasangan mulsa dalam budidaya tanaman :

a. Menekan kompetisi hara dengan gulma

b. Menjaga kestabilan agregat tanah

c. Menjaga ketersediaan air

d. Menekan erosi

e. Menurunkan suhu tanah

f.  Memudahkan dalam budidaya tanaman

 

Mulsa di atas permukaan tanah dapat menahan energi air hujan sehingga agregat tanah tetap stabil dan terhindar dari proses penghancuran. Semua jenis mulsa memiliki kemampuan menahan hantaman butiran air hujan. Oleh karenanya, semua jenis mulsa dapat digunakan untuk tujuan mengendalikan erosi.

Pemulsaan dapat mencegah evaporasi. Dalam hal ini air yang menguap dari permukaan tanah akan ditahan oleh bahan mulsa dan jatuh kembali ke tanah. Akibatnya lahan yang ditanami tidak akan kekurangan air karena penguapan air ke udara hanya terjadi melalui proses transpirasi. Proses transpirasi ini merupakan proses normal yang terjadi pada tanaman. Melalui proses transpirasi inilah tanaman dapat menarik air dari dalam tanah yang di dalamnya telah terlarut berbagai hara yang dibutuhkan tanaman.

Permukaan mulsa perak (PHP) dapat memantulkan (refleksi) radiasi matahari. Tingginya pemantulan radiasi matahari ini memiliki efek ganda. Efek pertama ialah memperkecil panas yang mengalir ke tanah sehingga kemungkinan suhu tanah dapat diturunkan, sementara efek kedua ialah memperperbesar radiasi matahari yang dapat diterima oleh daun-daun tanaman sehingga kemungkinan proses fotosintesis dapat ditingkatkan. Permukaan hitam dimaksudkan untuk lebih membatasi radiasi matahari yang menembus sampai ke permukaan tanah sehingga keadaan permukaan tanah menajdi gelap total. Keaaan ini akan menekan perkecambahan dan pertumbuhan tanaman pengganggu (gulma).

Pengaruh pemberian bio stimulan dalam meningkatkan berat rata-rata buah adalah  dalam mengatasi permasalahan kekurangan hormone sitokenin pada tanaman dan meningkatkan prosentase bunga jadi buah serta jumlah buah pertanaman (Arimbawa dkk, 2001). Disamping itu, biostimulan Super Bionik dapat berfungsi didalam menstimulasi pertumbuhan tanaman dan didalamnya terkandung senyawa sitokinin, giberellin, IAA, asam amino, vitamin dan asam-asam organik seperti humik dan fulval,  dan juga terdapat unsur hara makro (N, P, K, Ca, Mg dan S) unsur hara mikro (Bo, Fe, Zn, Cu,Cl,Co dan Mo). Manfaat biostimulan Super Bionik adalah untuk merangsang pembentukan daun, merangsang sitokinesis sehubungan dengan pertumbuhan dan perkembangan tanaman, meningkatkan efisiensi pemupukan, merangsang pertumbuhan pucuk atau titik tumbuh kearah lateral (Anon, 2003).

b. Poduktivitas

Dari percobaan yang dilakukan, produktivitas setiap perlakuan menunjukkan pengaruh yang berbeda-beda, hal ini sangat terkait dengan rata-rata berat perbuah sebagai pengaruh dari perlakuan yang diberikan. Dari total 20 are percobaan, total plot masing-masing perlakuan mencapai 5 are dan hanya sebanyak 80% dari produksi bisa dipanen dan dijual. Hal ini disebabkan 20 % dari total buah dan tanaman karena terserang penyakit, memiliki bentuk yang tidak sempurna sebagai pengaruh dari naungan serta kurangnya air yang diberikan. Sehingga produktivitas riil berbeda dengan produktivitas optimal masing-masing perlakuan (tabel 4 dan grafik 2). Produktivitas optimal merupakan produktivitas yang diperoleh dari contoh yang dipanen dan dikalibrasi dengan total tanaman. Sedangkan produktivitas riil merupakan produktivitas yang dihasilkan dari total riil yang dapat dipanen yang diperoleh dari selisih dari total produktivitas optimal dengan tanaman yang tidak bisa dipanen dan dijual. Perhitungan produktivitas riil dilakukan untuk memperoleh gambaran yang riil terjadi ditingkat lapngan ketika percobaan ini dilakukan serta untuk memberikan suatu informasi pada petani jika budidaya melon sky rocket ini dilaksanakan. Dengan diperolehnya analisis riil, maka beberapa saran dan pertimbangan pada lokasi spesifik dapat diberikan.

Tabel 4. Produktivitas Optimal dan Riil pada percobaan melon Sky Rocket di dusun Ngis, desa Tembok, TMB 20A, kecamatan Tejakula, Buleleng, 2003.

NO Perlakuan Produktivitas optimal per 5 are,kg Produktivitas riil  per 5 are,kg Produktivitas,

kg/ha,

optimal

Produktivitas kg/ha,riil panen
1 Biostimulan + Mulsa PHP (P1) 1,901 1,521 38,016 30,413
2 Tanpa Biostimulan + Mulsa PHP  (P2) 1,309 1,048 26,189 20,951
3 Biostimulan + Mulsa seresah tanaman (P3) 1,584 1,267 31,680 25,344
4 Tanpa Biostimulan + Mulsa Seresah Tanaman (P4) 1,077 862 21,542 17,234

Dari percobaan diperoleh kisaran berat terendah dan tertinggi dari masing-masing perlakuan.Kisaran berat ini diperlukan dalam kaitan pemasaran dari hasil produksi yang mana memiliki kisaran harga yang berbeda pula. Pada perlakuan yang memberikan pengaruh berat per kg tertinggi, seperti perlakuan dengan pemberian bio-stimulan Super bionik dan mulsa plastik, akan memberikan kisaran harga per kg berat yang tertinggi pula. Pada tabel 5 diberikan kisaran berat terendah dan tertinggi.

Tabel 5. Kisaran berat perbuah pada melon varietas Sky Rocket untuk setiap perlakuan pada percobaan di desa Tembok, Tejakula, Buleleng

No Perlakuan Terendah,kg Tertinggi,kg
1 Biostimulan + Mulsa PHP 1.60 2.00
2 Tanpa Biostimulan + Mulsa PHP 1.10 1.40
3 Biostimulan + Mulsa seresah tanaman 1.30 1.70
4 Tanpa Biostimulan + Mulsa Seresah Tanaman 0.80 1.20

Dari panen yang dilaksanakan diperoleh kisaran hasil produksi riil pada tingkat berat tertentu untuk masing-masing perlakuan. Masing-masing berat buah/kg memiliki kisaran harga sesuai harga pasar pada saat dilakukan panen dan pemasaran. Dalam tabel 6 dirinci masing-masing perlakuan yang memberikan berat per kg yang dapat dijual dalam jumlah persentase panen serta penerimaan kotor per luasan penanaman 5 are dan 1 ha.. Perlakuan  biostimulan + pemberian mulsa PHP memberikan rata-rata berat 1,8 kg/buah, dimana berat tersebut berada dalam kisaran 1,6 kg sd 2 kg.

3.5. Keuntungan dan Biaya

Persentase buah yang memiliki berat 2 kg yang dapat dipanen mencapai 80%, berat 1,8 kg dapat dipanen 15% dan berat 1,6 kg dipanen 5% dari total panen riil yang mencapai 1.520,5 kg untuk luasan 5 are. Perlakuan tanpa pemberian bio-stimulan dengan menggunakan mulsa seresah memberikan rata-rata buah yang terendah,dimana 90% merupakan buah dengan berat 1,2 kg/buah, 8% merupakan buah dengan berat 1 kg/buah dan 2 % merupakan buah dengan berat 0,8 kg/buah dari total berat yang dapat dipanen yangmencapai 862 kg/5 are.

Tabel 6. Produksi riil per plot penanaman (kg/5 are) serta penerimaan kotor per 5 are dan 1 ha dalam setiap perlakuan dan persentase hasil panen riil yang dipasarkan serta tingkat harga dari masing-masing klasifikasi berat per buah, dalam percobaan di desa Tembok,Tejakula, Buleleng, 2003.

NO Perlakuan Harga/kg,Rp Total produksi riil,kg,plot Penerimaan Kotor/5 are Penerimaan kotor/ha,Rp
1 Biostimulan + mulsa PHP        
  Berat 2 kg/bh, 80 % 2,000 1,216.40 2,432,800 48,656,000
  Berat 1.8kg/bh, 15% 2,000 228.08 456,150 9,123,000
  Berat 1.6kg/bh,5% 1,750 76.03 133,044 2,660,875
  Total   1,520.50 3,021,994 60,439,875
2 Tanpa biostimulan + mulsa PHP        
  Berat 1.4 kg/bh, 85% 1,400 890.38 1,246,525 24,930,500
  Berat 1.2 kg/bh,10% 1,200 83.80 100,560 2,011,200
  Berat 1.1 kg/bh,5% 1,000 73.33 73,325 1,466,500
  Total   1,047.50 1,420,410 28,408,200
3 Biostimulan + mulsa seresah        
  Berat  1.7 kg/bh,85% 2,000 1,076.95 2,153,900 43,078,000
  Berat 1.5 kg/bh,8 % 1,750 126.70 221,725 4,434,500
  Berat 1.3 kg/bh, 7% 1,400 63.35 88,690 1,773,800
  Total   1,267.00 2,464,315 49,286,300
4 Tanpa biostimulan + mulsa seresah        
  Berat 1.2 kg/bh, 90% 1,200 775.80 930,960 18,619,200
  Berat 1.0 kg/bh, 8% 1,000 68.96 68,960 1,379,200
  Berat  0.8 kg/bh, 2% 1,000 17.23 17,234 344,678
  Total   862 1,017,154 20,343,078

Setiap perlakuan memberikan tingkat keuntungan dan biaya yang berbeda. Dalam usaha budidaya luasan 5 are, perlakuan pembeian biostimulan dan mulsa PHP (P1) membutuhkan biaya sarana produksi yang tertinggi yaitu Rp.2.054.449,-. Sementara itu perlakuan tanpa pemberian biostimulan dan penggunaan mulsa seresah (P4) memanfaatkan biaya sarana produksi terendah yaitu Rp.1.758.894,-. Biaya sarana produksi merupakan biaya yang dikeluarkan untuk pembelian pupuk Urea, ZA,NPK,benih, pupuk daun, pupuk kandang, obat-obatan, dolomit, bo-stimulan, ajir dan mulsa PHP.

Tabel 7. Biaya dan keuntungan usahatani melon Sky Rocket dalam luasan 5 are untuk masing-masing perlakuan dalam percobaan di desa Tembok, Tejakula, Buleleng,2003.

No Aktivitas Perlakuan
P1 P2 P3 P4
1 Biaya sarana produksi, Rp. 2.054.449 2.028.894 1.784.449 1.758.894
2 Penggunaan tenaga kerja,HOK 40,06 39,19 38.81 38.81
3 Biaya TK,Rp. 801.250 783.750 776.250 776.250
4 Persentase penggunaan biaya sarana produksi dari total biaya (%) 71,94 % 72,13% 69,69% 69,38%
5 Persentase penggunaan biaya tenaga kerja dari total biaya (%) 28,06% % 27,87% 30,31%% 30,62%
6 Produksi, kg/5 are 1.520,5 1.047,5 1.267 861,99
7 Penerimaan kotor, Rp/5 are 3.021.994 1.420.410 2.464.315 1.017.154
8 Keuntungan, Rp. 166.295 - 1.392.234 -96.384 -1.517.154
9 Penerimaan kembali dari penggunaan tenaga kerja keluarga 801.205 783.750 776.250 776.250
10 Penerimaan riil (keuntungan + penerimaan kembali dari penggunaan TK keluarga)        
  a. Dalam waktu 65 hari(satu siklus produksi) 967.545 -608.484 679.866 -741.740
  b. Per hari 14.885 -9.361 10.459 -11.411

Keterangan :

HOK : Hari orang kerja, 1 HOK = 8 jam kerja setara pria

TK : Tenaga kerja

Dalam tabel 7 menunjukkan bahwa perlakuan P2 dan P4 memberikan keuntungan yang minus atau rugi meskipun biaya tenaga kerja keluarga diterima kembali sebagai penerimaan karena kenyataannya petani tidak mengeluarkan biaya untuk tenaga kerja keluarga. Sementara itu, perlakuan P1 memberikan keuntungan baik ketika TK keluarga dibayar sebagai pengeluaran maupun ketika diterima kembali sebagai pendapatan keluarga. Sedangkan perlakuan P3 akan memberikan keuntungan ketika biaya TK keluarga diterima kembali sebagai pendapatan keluarga.

Kondisi ini menunjukkan bahwa masih diperlukan upaya yang lebih efisien didalam budidaya melon yaitu dengan memanfaatkan bahan-bahan lokal seperti misalnya pemanfaatan pupuk kandang sapi yang diperoleh dari ternak sapi yang dipelihara petani dan penggunaan ajir dengan memanfaatkan limbah kayu seperti dahan gamal, santan, batang pelepah daun kelapa, dsb, yang tumbuh di sekitar area usahatani.

Pada tabel 8 dirinci keuntungan petani yang diperoleh jika memanfaatkan bahan-bahan lokal, khususnya ajir dan pupuk kandang yang dimiliki, pada setiap perlakuan dimana TK keluarga diterima sebagai pendapatan. Persentase biaya dari total biaya keseluruhan yang dikeluarkan untuk ajir dan pupuk kandang sangat tinggi, yaitu berkisar antara 28 % sd 31 %. Demikian juga persentase untuk tenaga kerja yang berkisar antara 27 % sd 30 % dari total biaya usahatani. Jika biaya ajir,pupuk kandang dan tenaga kerja disediakan oleh petani maka seluruh pengeluaran tersebut akan menjadi poenerimaan kembali bagi petani.

Dari analisis diperoleh bahwa setiap perlakuan memberikan keuntungan dalam budidaya melon Skyrocket ketika petani memanfaatkan ajir dan pupuk kandang bahan-bahan lokal yang ada disekitar lokasi setempat milik petani serta tenaga kerja keluarga dimanfaatkan untuk usaha budidaya tersebut. Meskipun demikian, perlakuan P1 dan P3 tetap lebih layak diterapkan dari pada perlakuan P2 dan P4, dimana perlakuan P1 dapat memberikan pendapatan sebesar  Rp.29.733,- dan P3 sebesar Rp.24.939,-. Jika dibandingkan dengan nilai upah buruh (tenaga kerja) di sektor industri konstruksi disekitar lokasi penelitian dan daerah perkotaan kabupaten Buleleng yang mencapai antara Rp.15.000,- sd Rp.20.000,- per hari atau per HOK, maka pendapatan dari usahatani budidaya melon sky rocket dengan perlakuan tersebut (P1 dan P3) lebih menguntungkan.

Tabel 8. Keuntungan budidaya melon Sky Rocket dengan memanfaatkan bahan-bahan lokal dan penggunaan TK keluarga, luas 5 are,  di desa Tembok, Tejakula, Buleleng, 2003

No Biaya dan keuntungan Perlakuan
P1 P2 P3 P4
1 Total biaya yang diterima kembali jika menggunakan bahan lokal (% dari total biaya*) 816.450 (28,2%) 816.450

(28,63%)

816.450 (31,45%) 816.450 (31,76%)
  a. Pupuk kandang 486.450 486.450 486.450 486.450
  b. Ajir 330.000 330.000 330.000 330.000
2 Keuntungan        
  a. Dalam waktu 65 hari(satu siklus produksi) 1.783.995 207.966 1.496.316 74.710
  b. Per hari 29.733 3.466 24.939 1.245

Keterangan :

* ) : Persentase (%) penggunaan biaya pupuk kandang dan ajir dari total biaya saprodi berbeda pada masing-masing perlakuan walaupun jumlah yang digunakan adalah sama.Hal ini karena total biaya saprodi yang digunakan berbeda-beda karena perbedaan perlakuan.

HOK : Hari orang kerja

TK : Tenaga kerja

3.6. Rasio Penerimaan dan Biaya (R/C), Break Event Point (BEP)

Perlakuan yang diberikan pada sistem budidaya dapat mempengaruhi produktivitas dan pada akhirnya membawa pengaruh kepada tingkat keuntungan, rasio penerimaan dan biaya (R/C) serta Break Event Point (BEP) atau titik pulang pokok produksi maupun harga. Analisis usahatani melon Skyrocket di desa Tembok,Tejakula, menunjukkan bahwa keuntungan riil yang diperoleh dengan memanfaatkan tenaga kerja keluarga, serta penggunaan bahan-bahan lokal untuk ajir dan pupuk kandang untuk perlakuan P3 memberikan R/C rasio 2,55, rasio ini tertinggi jika dibandingkan dengan perlakuan P1,P3,dan P4. Sementara itu secara berturut-turut R/C rasio P1, P2 dan P4 adalah 2,44, 1,17 dan 1,08. R/C rasio P3 2,55 memiliki pengertian bahwa setiap Rp. 1,- pengeluaran akan mengakibatkan penerimaan kotor sebesar Rp.2,55,-. Atau mengakibatkan adanya keuntungan sebesar Rp.1,55,-.

Perlakuan P3 juga memberikan titik pulang pokok harga (BEP harga) yang terendah jika dibandingkan dengan perlakuan lainnya, serta BEP produksi yang terendah pula. Hal ini menunjukkan bahwa untuk kembalinya modal yang digunakan dalam sistem produksi pada perlakuan P3 adalah hanya cukup menjual hasil produksinya rata-rata Rp.764,- per kg dan memproduksi 484 kg untuk berat melon 1,7 kg, 553 kg untuk berat 1,5 kg dan 691 kg untuk berat 1,3 kg.

Keadaan tersebut tidak bisa dicapai jika tidak memanfaatkan bahan-bahan lokal untuk ajir dan pupuk kandang serta jika memanfaatkan tenaga kerja upahan. Gambaran ini dirinci pada tabel 9.

Tabel 9. Rasio penerimaan dan biaya (R/C), titik pulang pokok produksi dan harga, pada setiap perlakuan serta penggunaan bahan-bahan lokal dan tenaga kerja keluarga dalam percobaan melon Skyrocket di desa Tembok,Tejakula,Buleleng,2003.

No Uraian Bahan-bahan lokal dan tenaga kerja keluarga Bahan-bahan diluar bahan lokal dan tenaga kerja upahan
1 R/C rasio (Rasio penerimaan kotor dan biaya)    
  a.P1 2,44 1,47
  b.P2 1,17 0,7
  c.P3 2,55 1,38
  d.P4 1,08 0,58
2 BEP (titik pulang pokok) produksi,kg    
  a. P1 (berat 1,8 kg/bh) 619 1.027
  b. P2 (berat 1,2 kg/bh) 1.010 1.691
  c. P3 (berat 1,5 kg/bh) 553 1.020
  d. P4 (berat 1,0 kg/bh) 942 1.759
3 BEP (titik pulang pokok) harga,Rp    
  a. P1 (berat 1,8 kg/bh) 814 1,351
  b. P2 (berat 1,2 kg/bh) 1.157 1.937
  c. P3 (berat 1,5 kg/bh) 764 1.408
  d. P4 (berat 1,0 kg/bh) 1.093 2.040

3.7. Masalah dan Kesan Petani Koperator

a.Naungan

Tanaman melon memerlukan penyinaran 10 sd 12 jam perhari sehingga dibutuhkan areal yang terbuka. Sinar matahari membantu proses pembentukan zat pati (gula) yang menyebabkan ukuran buah melon menjadi besar dan manis. Karena itu pada tingkat naungan yang tinggi menyebabkan buah melon tidak terbentuk sempurna. Tingkat naungan berkaitan dengan terhalangnya cahaya matahari menyinari permukaan daun tanaman. Tanaman tahunan seperti mangga, jambu mete, nangka, kelapa serta tanaman leguminosa seperti gamal, lamtoro, dan tanaman pohon lainnya yang berada diantara tanaman melon dan dipinggir lahan pertanaman akan mengurangi produksi melon. Pemilihan lokasi yang terbuka akan menentukan tingkat produktivitas tanaman. Petani membenarkan bahwa naungan yang lebat akan mengurangi produktivitas.

b. Sistem pengairan dan Debit air

Sistem pengairan yang telah di rancang sedemikian rupa kedalam sistem blok dengan debit air tertentu, berdasarkan kapasitas debit pompa serta dalam jumlah jam pengairan yang telah ditetapkan dalam kelompok dan dalam frekuensi hari tertentu pula, akan menyulitkan petani didalam memperoleh jumlah kebutuhan air tanaman dalam periode-periode pertumbuhan tertentu. Disisi lain, KPSP TMB20A menghadapi penurunan debit air dan sekali waktu mengalami kapasitas yang sangat rendah, menyebabkan petani sulit menyediakan air yang tepat bagi tanaman ketika tanaman mengalami pertumbuhan. Petani koperator mengamati bahwa ketersediaan air yang tidak menentu karena menurunnya debit air yang sulit titerka dapat menyebabkan kekurangan air yang dibutuhkan tanaman, disamping itu tanaman melon membutuhkan frekuensi pemberian air yang stabil untuk memperoleh bentuk net dan buah yang sempurna. Pemberian air setiap hari lebih baik dari pad pemberian air yang banyak secara tiba-tiba karena pemberian air secara tiba-tiba akan membuat melon menjadi pecah, rasa tidak manis dan net tidak terbentuk sempurna.

c.Modal

Budidaya melon Sky rocket membutuhkan biaya yang cukup tinggi, jika dibandingkan dengan budidaya tanaman musiman lainnya seperti kacang tanah, jagung dan ubi jalar. Lebih-lebih lagi jika dibandingkan dengan tanaman tahunan sepaerti mangga, jambu mete dan pepaya. Meskipun demikian, budidaya melon dapat disiasati dengan memanfaatkan bahan-bahan lokal untuk bahan jenis tertentu seperti ajir, pupuk kandang, tali, dan sebagainya. Pada kondisi petani yang miskin, modal menjadi aspek yang sangat sulit dipecahkan ketika harus membeli sarana produksi seperti benih, pupuk dan obat-obatan. Oleh karena itu diperlukan penyediaan modal bagi petani jika dikembangkan penanaman melon.

d.Waktu dan Tenaga Kerja

Budidaya melon menyerap tenaga kerja yang cukup tinggi namun rentang waktu sistem budidaya sangat pendek yaitu 55 sd 65 hari. Pada penerapan teknologi yang benar dan pemanfaatan bahan-bahan lokal maka budidaya melon akan memberikan imbalan penerimaan yang lebih tinggi dari pada upah kerja off-farm. Namun tenaga kerja keluarga akan menjadi faktor pembatas ketika area usahatani diperluas. Total kebutuhan tenaga kerja untuk usahatani melon seluas 5 are mencapai 38 sd 40 HOK. Hal ini menunjukkan bahwa dalam keluarga petani diperlukan satu orang anggota keluarga untuk memelihara  tanaman selama satu siklus produksi secara penuh untuk luasan 5 are. Jika anggota keluarga hanya satu orang saja yang memiliki waktu untuk sepenuhnya menggarap budidaya melon secara penuh, maka hal itu menunjukkan bahwa keluarga tani tersebut tidak bisa lagi menambah luas pertanaman lebih dari 5 are, kecuali bersedia menyewa tenaga kerja.

3.8. Kesimpulan dan Saran

Dari percobaan ini dapat disimpulkan beberapa hal yaitu :

  1. Perlakuan pemberian biostimulan dan penggunaan mulsa PHP memberikan pengaruh yang nyata terhadap tingkat produktivitas tanaman jika dibandingkan dengan perlakuan lainnya (P2,P3,dan P4).
  2. Serangan hama gayas pada tanaman mencapai 5 sd 10 % di setiap bedengan disamping serangan hama oteng-oteng. Sementara itu, hama penyakit lainnya menyerang dalam ambang serangan yang sangat rendah
  3. Banyaknya naungan menyebabkan terjadinya penurunan total produksi sebesar 20% dan rata-rata berat per buah menjadi beragam untuk setiap perlakuan.
  4. Pemanfaatan bahan-bahan lokal untuk ajir dan pupuk kandang serta pemanfaatan tenaga kerja keluarga akan memberikan tingkat penerimaan yang lebih tinggi bagi keluarga petani.

Dari percobaan ini dapat disarankan beberapa hal yaitu

  1. Budidaya melon akan lebih baik dilaksanakan pada lahan yang terbuka dan terhindar dari naungan tanaman tahunan.
  2. Pada wilayah KPSP yang mengalami masalah dalam keterbatasan debit air dan memiliki masalah dalam pengaturan air dalam kelompok itu sendiri,maka budidaya melon membutuhkan pertimbangan kembali karena budidaya melon memerlukan pengairan yang kontinyu
  3. Diperlukan sistem penyediaan sarfana produksi dan modal bagi kelanjutan budidaya mengingat budidaya melon membutuhkan biaya yang lebih tinggi dibandingkan budidaya tanamanb musiman lainnya dilokasi penelitian.
  4. Meskipun terjadi perbedaan produktivitas pada penggunaan mulsa, namun pada tingkat R/C rasio, penggunaan mulsa seresah dengan pemberian biostimulan memiliki nilai yang lebih tinggi dari pada penggunaan mulsa PHP. Karena itu, untuk menekan biaya input produksi akan lebih memungkinkan menggunakan mulsa seresah tanaman, dimana hal ini masih memungkinkan dalam kondisi kesulitan modal pada petani.
  5. Untuk menekan biaya input produksi dapat dilakukan dengan memanfaatkan bahan-bahan lokal, terutama untuk ajir dan pupuk kandang. Pupuk kandang dapat menggunakan kotoran sapi dan babi yang sudah dikeringkan. Ajir dapat digunakan dari bahan-bahan berupa ranting pohon gamal, batang pelepah kelapa, dan ranting pohon lainnya yang banyak tersedia disekitar lokasi penelitian.

Daftar Pustaka

Anonimous (2005). Laporan Analisis Tanah di Wilayah Proyek SDIABK.

Anonimous (2004a). Data Operasional Pompa.SDIABK.

Anonimous (2004b). Modul Pelatihan Pengelolaan Air Irigasi Sumur Pompa. Water Management. SDIABK.

Anonimous (1995). International Soil Fertility Manual. Potash and Phosphate Institute.USA

Anonimous, 1996 Agrispon Untuk Tanah PT. Agrispon Bogor 5 hal.

Styltie. P.W. 1991 Agrispon Research Summaries APP. LTD. Dallas 107 P

Arimbawa, P, D.N. Nyana, Arsa. W. 2001. Pengaruh Pemberian Agrispon Melalui

Injeksi Batang & Pupuk NPK Plus Terhadap Gugur Buah Nuda Tanaman Kako Agritop (20) : 113 – 115

Adrean (2003). Laporan ……………..

Verheye.W.H dan Pardede,Johan.L (1994). Soils and Land Use Potential for Irrigated Citrus Production. North Bali Groundwater Irrigation and Water Supply Project.

Project Management Unit (PMU-ALA/91/19).Minstry of Public Works. The Commission of The European Communities.

Salisbury Frank.B and Ross Cleon.W (1995). Fisiologi Tumbuhan.Penerbit ITB Bandung.

Dierolf Thomas,Fairhurst Thomas and Mutert Ernst (2001). Soil Fertility Kit.A toolkit for acid, upland soil fertility management in Southeast Asia. Ministry of Agriculture.

Novizan (2002). Petunjuk Pemupukan yang Efektif. Agromedia Pustaka,Jakarta.

Umboh, Andry Harits (1999). Petunjuk Penggunaan Mulsa. Penebar Swadaya Jakarta.

 

About these ads

About Widiyazid Soethama

I devote for community development, community mobilization, for livelihood and basic health of community works. Have experience work for Europe Union and United Nations (UNDP) and International NGO project. Experience working with Indonesia Government for more than fifteen years. Finished master Science from Wageningen University The Netherlands for Management Agro-Ecological Knowledge and Social Change
This entry was posted in Uncategorized and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s